ANAMBAS-ZONASIDIK.COM | Isu Penolakan terhadap aktivitas PT Kencana Jaya Jatibaru (PT KJJ) di Pulau Jemaja kembali menguat setelah Reno Ramanda, mahasiswa Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) yang merupakan putra daerah Anambas, menyampaikan sikap tegas menolak keberadaan perusahaan tersebut.
Suara mahasiswa tersebut menjadi representasi kegelisahan masyarakat terkait ancaman terhadap lingkungan serta sosial-ekonomi di Pulau Jemaja.
Pulau Jemaja dikenal sebagai salah satu kawasan strategis pariwisata Kabupaten Kepulauan Anambas. Keindahan pantai, hutan, dan keanekaragaman hayatinya menjadikan pulau ini kerap dipromosikan sebagai destinasi unggulan. Namun, kekhawatiran masyarakat dan mahasiswa meningkat seiring aktivitas PT KJJ yang bergerak di sektor perkebunan dan kehutanan.
Operasional perusahaan dinilai berpotensi memicu deforestasi, mengganggu sumber air, merusak ekosistem pesisir, serta memunculkan konflik sosial di tengah masyarakat.
Kepada Zonasidik, Reno Ramanda, mengatakan, penolakannya bukan didorong emosi, melainkan analisis dan tanggung jawab moral sebagai putra daerah yang ingin menjaga keberlanjutan lingkungan Anambas.
Ia menilai Anambas lebih layak dikembangkan melalui sektor pariwisata, kelautan, dan ekonomi kreatif, bukan industri ekstraktif berskala besar.
“Sebagai putra daerah, kami merasa berkewajiban menjaga tanah kelahiran. Pembangunan Anambas harus berbasis keberlanjutan, bukan eksploitasi,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Reno menyampaikan sejumlah tuntutan yang menjadi penegasan sikap mahasiswa terhadap aktivitas PT KJJ. Ia menekankan bahwa seluruh kegiatan perusahaan di Pulau Jemaja harus dihentikan apabila terbukti merusak lingkungan atau tidak memiliki dasar hukum yang sah.
Reno mendesak pemerintah daerah hingga pusat untuk segera mencabut izin operasional PT KJJ, termasuk dokumen AMDAL yang dinilai tidak transparan.
Bersamaan itu, Dirinya mengajak seluruh elemen masyarakat bersatu meningkatkan kesadaran lingkungan, sekaligus mendorong agar Pulau Jemaja dikembangkan sebagai kawasan pariwisata hijau yang mampu menopang ekonomi masyarakat tanpa merusak alam.
“Mari kita jaga, karena masa depan di Jemaja harus dibangun melalui sektor berkelanjutan, bukan industri yang berpotensi mengancam ekosistem,” tuturnya.
Sikap tegas yang disuarakan mahasiswa Anambas di UNRIKA ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak mengenal jarak. Meski menempuh pendidikan di Batam, identitas sebagai putra daerah mendorong mereka tetap menjaga tanah kelahiran.
UnUntuk itu, Reno yang menekuni studi Ilmu Pemerintahan berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memahami kekhawatiran masyarakat dan mengambil langkah bijak dalam memastikan setiap aktivitas industri di Anambas tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. (Pin)


