LINGGA-ZONASIDIK.COM | Musim kemarau kembali membuat warga Dusun II Senempek, Desa Limbung, Kecamatan Lingga Utara, Kabupaten Lingga, harus berjuang memenuhi kebutuhan air bersih.
Persoalan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu kembali terasa ketika musim panas datang. Sumber air di sekitar permukiman tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga, terutama untuk minum dan memasak.
Sebagian masyarakat pun terpaksa membeli air yang didatangkan dari wilayah lain. Dalam sehari, satu rumah tangga bahkan bisa membutuhkan satu hingga dua drum air, dengan biaya mencapai puluhan ribu rupiah.
Salah seorang warga yang menjalankan jasa pengangkutan air bersih di Senempek, Helkimansyah, mengatakan kesulitan mendapatkan air kembali dirasakan masyarakat sejak memasuki musim kemarau.
Hal tersebut disampaikannya saat ditemui Zonasidik di simpang jalan masuk Dusun II Senempek, Desa Limbung, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Helkimansyah, persoalan air bersih bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat Senempek. Kondisi tersebut telah dirasakan warga selama bertahun-tahun, khususnya ketika musim panas membuat sumber air di sekitar kampung semakin terbatas.
“Kondisi di kampung kami, Dusun Senempek, sudah mulai mengalami kesulitan air. Ini menjadi permasalahan yang sudah bertahun-tahun dirasakan masyarakat,” ujar Helkimansyah.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, air bersih harus didatangkan dari sumber yang berada cukup jauh, tepatnya di wilayah Desa Sungai Pinang, Kecamatan Lingga Timur.
Air tersebut diangkut menggunakan kendaraan pickup. Dalam sekali perjalanan, kendaraan mampu membawa sekitar 10 drum air. Dalam sehari, pengangkutan bahkan bisa dilakukan hingga empat kali perjalanan, tergantung kebutuhan warga.
Namun, untuk mendatangkan air dari lokasi tersebut, warga harus mengeluarkan biaya tambahan. Helkimansyah menyebut ongkos pengangkutan sekitar Rp2.000 per jeriken, sedangkan air yang telah sampai ke rumah warga dijual sekitar Rp20 ribu per drum.
Dengan kebutuhan satu hingga dua drum dalam sehari, pengeluaran untuk air bersih dapat mencapai sekitar Rp20 ribu hingga Rp40 ribu per rumah tangga setiap harinya.
“Sekali jalan paling bisa 10 drum, satu hari bisa empat kali jalan. Biaya yang dikeluarkan warga sekitar Rp2.000 hitungan per jeriken. Untuk yang sampai ke rumah, satu atau dua drum itu sekitar Rp20 ribu per drum,” jelasnya.
Bagi masyarakat Senempek, membeli air bukan lagi sekadar pilihan. Kondisi tersebut menjadi kebutuhan agar aktivitas rumah tangga tetap berjalan, terutama untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak.
Sementara itu, sumber air yang tersedia di sekitar kampung masih dapat digunakan untuk keperluan tertentu seperti mandi dan mencuci pakaian. Namun, jumlahnya dinilai belum mencukupi kebutuhan seluruh masyarakat.
“Kalau ini tidak dilakukan warga Senempek, maka tidak ada air bersih di rumah-rumah untuk kebutuhan minum dan memasak. Sumber air yang ada di kampung hanya bisa dipakai untuk mandi atau mencuci pakaian, itu pun tidak mencukupi,” katanya.
Kondisi tersebut juga menjadi beban tersendiri bagi warga yang bekerja sebagai nelayan. Setelah seharian melaut, mereka masih harus memikirkan kebutuhan air untuk keluarga di rumah.
Bagi sebagian nelayan, membeli air akhirnya menjadi pengeluaran tambahan yang sulit dihindari ketika sumber air di sekitar permukiman tidak mampu memenuhi kebutuhan.
“Terutama warga nelayan. Setelah lelah pulang melaut, mereka masih harus susah payah mengambil air dari sumber yang jauh. Jadi biaya membeli air setiap hari itu memang sebuah keterpaksaan,” ungkap Helkimansyah.
Persoalan air bersih di Dusun II Senempek kembali menjadi perhatian seiring datangnya musim kemarau. Warga berharap persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun itu tidak hanya ditangani ketika musim kemarau tiba.
Masyarakat menginginkan adanya solusi jangka panjang agar kebutuhan air bersih dapat terpenuhi secara layak tanpa harus terus bergantung pada pembelian dan pengangkutan air dari wilayah lain.



