Sosialisasi Batik Mangrove Genting Pulur, Dorong Kreativitas dan Konservasi Alam

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUMPP), Masykur, ST, MM saat membuka Sosialisasi Batik Mangrove Genting Pulur di Aula Anambas Inn, Kamis (28/8/2025)

ANAMBAS-ZONASIDIK.COM | Upaya melestarikan lingkungan sekaligus mengembangkan ekonomi kreatif terus digalakkan di Kabupaten Kepulauan Anambas. Salah satunya melalui Sosialisasi Batik Mangrove Genting Pulur yang dilakukan oleh Komunitas Konservasi Mangrove Penyu Alam dan Karang (KOMPAK), dengan dukungan Community Investment Harbour Energy.

Kegiatan ini resmi dibuka Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUMPP), Masykur, yang hadir mewakili Bupati Kepulauan Anambas, Kamis (28/8/2025) di Aula Anambas Inn.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang tidak hanya mengedepankan pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong lahirnya produk kreatif khas daerah.

Bacaan Lainnya

Masykur menyebutkan, bahwa pengembangan batik di Anambas sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2013 dengan mengangkat beberapa motif khas daerah, salah satunya motif cual. Ke depan, sejumlah motif yang menjadi ciri khas Anambas akan terus dikembangkan bahkan dipatenkan.

“Dengan adanya Batik Mangrove ini, kita punya ciri khas tersendiri. Membatik memang butuh proses yang cukup panjang karena sifatnya edukasi. Namun, jika terus dikembangkan dan menjadi bagian dari kebudayaan, maka batik Anambas bisa berkelanjutan, bahkan berpotensi menjadi batik yang mendunia,” ucap Masykur.

Ditempat yang sama, Andri Kristianto selaku Manager Community Investment Harbour Energy, mengatakan bahwa program ini merupakan gabungan dari beberapa aspek, di antaranya pengelolaan lingkungan dan pengembangan potensi pariwisata.

“Program ini kami rancang sebagai upaya menjaga kelestarian alam sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif baru. Tentunya ini akan menjadi alternatif pendapatan bagi masyarakat, dan inilah tujuan kami dalam mendampingi program ini. Insya Allah, program ini bersifat jangka panjang,” ujar Andri.

Sementara itu, Ketua Kelompok Batik Mangrove Genting Pulur, Bambang Asmara, menjelaskan bahwa bahan pembuatan batik ini memanfaatkan limbah dari mangrove sehingga ramah lingkungan dan alami.

“Batik ini berbeda dengan batik pada umumnya karena pewarnaan yang digunakan berasal dari bahan alami mangrove. Selain menjaga kelestarian alam, kita juga ingin menunjukkan bahwa limbah bisa menjadi sesuatu yang bernilai seni dan ekonomi,” jelasnya.

Melalui sosialisasi ini, ia berharap para pelajar dan masyarakat bisa belajar langsung bagaimana proses membatik dengan bahan alami. Menurutnya, hal ini penting untuk memperkenalkan batik sebagai produk kreatif sekaligus memperkuat identitas lokal.

“Harapan kami, Batik Mangrove Genting Pulur tidak hanya dikenal di Anambas, tetapi juga bisa berkembang ke luar daerah bahkan ke pasar internasional,” tambahnya.

Sosialisasi ini diikuti oleh siswa-siswi dari SMAN 1 Siantan, SMPN 2 Siantan, MA Fatahillah, dan MTs Fatahillah. Selain itu, turut hadir perwakilan dari Kejaksaan, Dekranasda, LAM, DKUMPP, GOW, TNI-Polri serta para penjahit lokal Anambas.

Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai filosofi Batik Mangrove Genting Pulur yang terinspirasi dari kekayaan alam pesisir, serta potensi pengembangannya sebagai ikon ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab. (Pin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *