Sampah Rumah Tangga di Payamaram Diolah Jadi Biogas dan Media Tanam, Distribusi ke Warga Masih Dikaji

Kepala Desa Payamaram, Yariman, menunjukkan kompor yang menyala menggunakan biogas hasil pengolahan sampah organik di TPK Pengelola Sampah Rumah Tangga Desa Payamaram, Kecamatan Kute Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kamis (3/9/2026). Foto: Pinni/ZS.

ANAMBAS-ZONASIDIK.COM | Pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Payamaram, Kecamatan Kute Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, mulai menunjukkan hasil. Sampah organik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan kini diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat, mulai dari biogas sebagai sumber energi hingga media tanam untuk mendukung kebutuhan pertanian.

Pengolahan tersebut dilakukan melalui TPK Pengelola Sampah Rumah Tangga Desa Payamaram yang berada di Jalan Panglima Dahman, RT 04/RW 01. Fasilitas pengolahan sampah ini dibangun pada 2023 dan mulai beroperasi menggunakan teknologi Bioreaktor Kapal Selam (BKS) pada akhir 2025.

Kepala Desa Payamaram, Yariman, mengatakan fasilitas tersebut merupakan bantuan dari Medco Energi yang memberikan peluang bagi desa untuk mengembangkan pengelolaan sampah berbasis teknologi sekaligus menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Terima kasih kepada Medco Energi yang sudah memberikan bantuan pengelolaan sampah berbasis Bioreaktor Kapal Selam. Dari pengelolaan ini kita bisa menghasilkan media tanam dan juga biogas,” ujar Yariman kepada zonasidik, Kamis (3/9/2026).

Dijelaskannya, proses pengolahan dimulai dari sampah organik yang dikumpulkan dari rumah-rumah warga. Sampah tersebut kemudian dibawa ke tempat pengolahan untuk dicacah menggunakan mesin hingga menjadi bubur organik.

“Dari bubur organik itu langsung kita masukkan ke dalam bioreaktor kapal selam. Di sana mikroorganisme mengurai bahan organik melalui proses fermentasi. Dari proses itu menghasilkan biogas, media tanam padat, serta media tanam cair,” jelasnya.

Pengetahuan mengenai potensi pengolahan sampah tersebut, kata Yariman, sudah diketahui dirinya sebelum fasilitas BKS dibangun di Desa Payamaram. Ia mengaku mendapat petunjuk mengenai sistem dan hasil pengolahan BKS dari Dr. Muhammad Sobri, yang disebut sebagai pencetus Bioreaktor Kapal Selam.

Dari penjelasan tersebut, Yariman memahami bahwa sampah organik tidak hanya dapat dikelola untuk mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai guna bagi masyarakat, seperti biogas dan media tanam.

Hasilnya pun kini mulai terlihat. Biogas yang dihasilkan bahkan sudah diuji coba secara langsung di lokasi TPS menggunakan kompor gas.

“Untuk saat ini biogas sudah kita uji praktik di TPS sendiri menggunakan kompor gas. Alhamdulillah sudah bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.

Meski sudah berhasil digunakan untuk menyalakan kompor, Yariman menyebut pihaknya masih perlu mengkaji metode yang paling aman dan efisien apabila biogas tersebut nantinya disalurkan ke rumah-rumah warga.

Saat ini terdapat dua opsi yang sedang dipertimbangkan, yakni menggunakan kantong khusus biogas atau melalui sistem pipanisasi langsung ke rumah masyarakat. Keduanya masih membutuhkan uji coba lebih lanjut.

“Rencana kami biogas ini akan disalurkan ke warga agar bisa dimanfaatkan bersama. Nah, saat ini kami masih perlu melakukan proyek dan uji coba lagi untuk mencari metode mana yang terbaik dan pastinya lebih efisien,” ujarnya.

Untuk itu, dirinya berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas maupun Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dapat ikut bersinergi membantu Desa Payamaram menemukan sistem distribusi biogas yang aman.

Sebab, ke depan pihak desa ingin hasil pengolahan sampah tersebut benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Harapan saya, dengan adanya biogas ini masyarakat bisa menghemat penggunaan gas LPG. Kalau Desa Payamaram sudah bisa menghasilkan gas sendiri, tentu akan sangat baik kalau bisa kita manfaatkan untuk masyarakat,” tuturnya.

Tak hanya biogas, media tanam yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah juga sudah tersedia. Desa berencana mengemasnya agar bisa dimanfaatkan warga, termasuk membuka peluang kerja sama dengan para petani di wilayah Pulau Palmatak hingga Siantan dan Jemaja.

Di sisi lain, pengelolaan sampah di Payamaram juga didukung pola pengangkutan rutin dari rumah warga. Desa telah membentuk Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Pengelola Sampah, yang bertugas mengambil sampah masyarakat tiga kali dalam sepekan untuk dibawa ke TPS dan selanjutnya diproses.

“Dari desa kita membentuk tim TPK pengelolaan sampah. Setiap minggu tiga kali kita mengambil sampah dari masyarakat untuk dibawa ke TPS dan kita kelola,” ungkap Yariman.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, terdapat enam petugas kebersihan dan tiga orang yang tergabung dalam tim TPK pengelola sampah.

Bagi Yariman, langkah ini bukan hanya soal mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga mencoba mengubah sampah menjadi sumber manfaat baru. Dari sampah rumah tangga, Desa Payamaram perlahan mulai menghasilkan energi alternatif dan media tanam, sementara pemanfaatan biogas untuk masyarakat masih menunggu metode distribusi yang dinilai paling aman dan efisien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *