ANAMBAS-ZONASIDIK.COM| Guna memastikan Penyu tetap ada, Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru sebagai salah satu pemangku kepentingan terus melakukan upaya pelestarian dan perlindungan terhadap Penyu di TWP Kepulauan Anambas dan sekitarnya.
Diketahui, di TWP Kepulauan Anambas sendiri LKKPN Pekanbaru telah melakukan beberapa upaya seperti sosialisasi dan penyadartahuan kepada masyarakat atau generasi muda melalui kegiatan Conservation Goes To School, pemantauan bersama dengan pihak terkait secara berkala dan respon cepat terhadap adanya kasus atau laporan dari masyarakat terkait pemanfaatan penyu.
Sejak awal tahun ini, LKKPN Pekanbaru melakukan kegiatan monitoring Penyu di salah satu pulau terluar Kabupaten Kepulauan Anambas, yaitu Pulau Mangkai, Desa Keramut Kecamatan Jemaja Barat. Dimana empat orang warga Desa Keramut yang dilatih lalu direkrut menjadi petugas enumerator sebagai bentuk dari pemberdayaan masyarakat. Yang akhirnya menghasilkan 922 tukik (anak penyu) dan 153 sarang berhasil direlokasi ke sarang semi alami dari bulan Februari hingga Mei 2022.
Fajar Kurniawan selaku Kepala LKKPN Pekanbaru mengatakan, kegiatan ini merupakan wujud rencana aksi pelestarian biota dilindungi jenis penyu dalam rangka mengurangi tingginya ancaman terhadap kelestarian penyu di Kepulauan Anambas.
“Kegiatan ini juga merupakan pilot project yang kami lakukan di wilayah kerja TWP Kepulauan Anambas. Harapannya pihak-pihak lain dan masyarakat bisa turut serta dan ambil bagian dalam upaya menjaga penyu agar tetap ada di Anambas,” ucap Fajar, Kamis (26/05/2022).
“LKKPN Pekanbaru sendiri telah berpengalaman dalam melaksanakan pengelolaan konservasi penyu sejak tahun 2016 di Wilayah Kerja TWP Pulau Pieh – Sumatera Barat,” sambungnya.
Kata Dia, selain melakukan kegiatan monitoring penyu secara langsung, LKKPN Pekanbaru juga melakukan upaya pemberdayaan terhadap Kelompok Masyarakat Penggerak Konservasi (KOMPAK) yang salah satunya adalah Kelompok Penyu Jemaja Lestari.
“Kelompok yang diketuai oleh Burhan warga Letung ini bahkan sudah eksis melakukan pelestarian di Kepulauan Anambas sejak tahun 2018. Pada tahun 2019 hingga sekarang kelompok ini sudah banyak melakukan pelepasan tukik ke laut,” sebutnya.
Berdasarkan laporan, sepanjang 2022 kelompok ini sudah melakukan konservasi penyu di pantai Teluk Ubi Pulau Teluk Dalam, Desa Sunggak dengan hasil 35 sarang berhasil direlokasi serta 4 sarang berhasil menetas dan dirilis ke laut.
Guna meningkatkan aktivitas konservasi yang dilakukan oleh kelompok tersebut, LKKPN Pekanbaru akan menyalurkan Bantuan Pemerintah bidang konservasi senilai hampir 100 juta rupiah kepada mereka tahun ini berupa peralatan penunjang kegiatan konservasi Penyu.
Ditempat terpisah, Markos selaku Kepala Desa Keramut mengatakan bahwa pihaknya akan mendukung penuh program yang dijalankan di Pulau Mangkai dan berharap kegiatan tersebut bisa berkembang dan berkelanjutan demi kelestarian penyu dan peningkatkan ekonomi masyarakat sekitar melalui pengembangan wisata minat khusus pengamatan penyu.
“Kelestarian penyu dimana pun termasuk Kepulauan Anambas sangat bergantung kepada kesadaran dan peran dari seluruh stakeholder dan masyarakat. Seluruh elemen harus bersama-sama mendukung dan melakukan aksi nyata dalam rangka perlindungan dan pelestarian penyu sehingga keberadaan Penyu di dunia dan Anambas khususnya tetap lestari,” ujarnya.
Untuk diketahui, Penyu merupakan biota laut yang dilindungi, sering dijuluki sebagai “Si Penjaga Sumberdaya Laut” karena memiliki peran penting dalam kesehatan ekosistem laut. Penyu sering juga disebut sebagai hewan purba, telah ada di bumi selama 150 juta tahun lamanya dan umurnya bisa mencapai 60-70 tahun.
Keberadaan penyu di laut sayangnya terancam oleh faktor alam hingga manusia yang melakukan pemanfaatan penyu secara tidak bertanggungjawab.
Di Indonesia terdapat 6 jenis penyu dari 7 jenis yang ada di dunia, dan 2 diantaranya dapat ditemui di Kepulauan Anambas yaitu Penyu Hijau dan Penyu Sisik. Sejumlah pantai di Kepulauan Anambas diketahui menjadi lokasi pendaratan dan peneluran untuk kedua jenis penyu tersebut.
Alasan mengapa Penyu harus dilestarikan adalah mengingat peluang hidup penyu sangat rendah. Tanpa diapa apakan saja peluang hidupnya sampai kembali bertelur setelah puluhan tahun hanya sekitar 1-3 persen.
Apalagi kalo telurnya diambil dan diperjual belikan, artinya secara jumlah pasti akan jadi jauh berkurang dan bisa dipastikan akan punah. Akankah siklus hidup Penyu akan berhenti dimasa hidup kita? Atau sebaliknya dimasa kitalah kemudian penyu semakin terlindungi dan terus lestari hingga anak cucu. (Pin)