ANAMBAS-ZONASIDIK.COM | Keputusan panitia turnamen sepak bola di Desa Ladan yang mendiskualifikasi tim Putik B menuai polemik. Pemerintah Desa Putik menyatakan keberatan atas keputusan tersebut dan menilai tim mereka dirugikan, terutama karena insiden yang terjadi di lapangan dinilai tidak sesuai dengan dasar diskualifikasi.
Kepala Desa Putik, Azman Riadi, menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah serius dalam menyikapi kejadian tersebut, baik dari sisi hukum maupun olahraga.
“Dalam kejadian itu ada unsur kriminal, yaitu pemukulan saat pertandingan berlangsung. Hal ini sudah kami serahkan kepada pihak kepolisian untuk ditangani sesuai hukum yang berlaku,” ujar Azman kepada awak media, Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, penanganan kasus pemukulan sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum. Karena itu, pihak desa kini memilih menunggu proses hukum yang sedang berjalan.
Selain aspek hukum, Azman juga menyoroti keputusan panitia yang dinilai sepihak dalam menjatuhkan sanksi diskualifikasi kepada tim Putik B. Ia menyebut, berdasarkan fakta di lapangan, justru pihak lawan yang lebih dahulu melakukan tindakan pemukulan.
“Namun panitia memutuskan Putik yang didiskualifikasi. Ini yang kami anggap merugikan dan perlu ditinjau ulang secara objektif,” sebutnya.
Atas dasar itu, Pemerintah Desa Putik menempuh jalur organisasi dengan melayangkan surat resmi kepada Asosiasi Kabupaten PSSI Kepulauan Anambas (Askab) agar dilakukan peninjauan ulang terhadap keputusan tersebut.
“Untuk urusan pertandingan, itu ranah Askab. Kami sudah bersurat dan berharap ada tindak lanjut yang adil dan transparan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Karang Taruna Bima Sakti Desa Putik, Alfani, menjelaskan bahwa kericuhan bermula saat pertandingan antara Putik B berhadapan dengan Tebang A pada 28 April 2026 kemarin.
“Awalnya terjadi saat situasi lemparan bola ke dalam. Pemain kami ingin cepat melanjutkan permainan, namun pihak lawan justru mengulur waktu dengan membuang bola. Hal itu memancing emosi dan akhirnya terjadi keributan di lapangan,” ungkap Alfani.
Ia menilai insiden tersebut seharusnya bisa disikapi secara proporsional oleh panitia, tanpa langsung menjatuhkan sanksi yang dinilai merugikan salah satu tim.
Peristiwa ini menjadi sorotan publik, mengingat turnamen sepak bola antar desa kerap menjadi ajang silaturahmi dan menjunjung tinggi sportivitas. Namun, insiden di lapangan yang berujung konflik serta polemik keputusan panitia justru mencederai semangat tersebut. (Pin)


