Bukan Sekadar Padam, Listrik Tak Stabil Bikin Ikan Busuk dan Usaha Merugi

Ilustrasi ikan hasil tangkapan nelayan yang terpaksa dibuang akibat gangguan penyimpanan, menggambarkan dampak ketidakstabilan pasokan listrik terhadap kualitas ikan dan pendapatan nelaya. Foto: buatan AI.

ANAMBAS-ZONASIDIK.COM | Gangguan listrik yang terjadi di Pulau Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, dalam beberapa bulan terakhir tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga memukul usaha perikanan.

Pasokan listrik yang mati hidup membuat proses produksi es batu terganggu, sementara ikan yang membutuhkan penanganan dan penyimpanan dengan suhu dingin terancam rusak.

Dampak tersebut dirasakan Ahmad, salah seorang pengusaha ikan di Tarempa-Anambas. Ia mengungkapkan, ketidakstabilan listrik membuat aktivitas usahanya tidak berjalan maksimal, terutama dalam proses pembekuan ikan maupun penanganan ikan segar yang membutuhkan es batu.

Bacaan Lainnya

Dijelaskan Ahmad, es batu menjadi kebutuhan penting dalam rantai usaha perikanan. Bukan hanya pengusaha ikan, nelayan juga bergantung pada ketersediaan es untuk menjaga kualitas hasil tangkapan sebelum dipasarkan.

Namun, ketika listrik berulang kali padam dan kembali menyala, produksi es batu ikut terganggu. Kondisi ini membuat pelaku usaha kesulitan memenuhi kebutuhan penyimpanan ikan, sehingga aktivitas perdagangan dan penanganan hasil tangkapan tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

“Dampaknya banyak. Aktivitas kami sangat terhambat. Untuk ikan beku maupun ikan segar, semuanya membutuhkan es batu. Kalau tidak ada listrik, es batu tidak bisa diproduksi dengan baik. Akibatnya, pelaku usaha maupun nelayan tidak bisa berproduksi secara maksimal,” ujar Ahmad kepada zonasidik, Kamis (22/10/2026).

Kerugian yang ditimbulkan bukan hanya berkaitan dengan terganggunya aktivitas usaha. Ahmad menyebut, kerusakan peralatan dan proses produksi yang tidak maksimal turut menambah beban biaya yang harus ditanggung pengusaha.

Ia memperkirakan kerugian usahanya selama listrik tidak stabil sejak September hingga awal Oktober 2026 dapat mencapai ratusan juta rupiah. Nilai tersebut merupakan perkiraan yang mencakup dampak gangguan terhadap kegiatan usaha dan kerusakan peralatan.

Sementara itu, kerugian paling nyata terlihat dari ikan hasil tangkapan yang terpaksa dibuang karena membusuk akibat gangguan pasokan listrik yang menghambat proses penyimpanan. Ahmad menyebut, sedikitnya dua ton ikan miliknya telah rusak parah dan tidak dapat dipertahankan untuk dijual.

“Kalau ikan yang betul-betul rusak parah, sudah ada sekitar dua ton yang kami buang. Sedangkan ikan yang masih bisa diselamatkan, harganya jauh turun. Modal pembelian dengan harga jual sudah tidak sesuai, sehingga tetap menimbulkan kerugian,” ungkapnya.

Ahmad memperkirakan, jika dihitung bersama ikan yang masih dapat diselamatkan tetapi mengalami penurunan harga, jumlah ikan yang terdampak di usahanya mendekati 10 ton.

Terpisah, Sekretaris Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI) Kabupaten Kepulauan Anambas, Desvian, mengecam persoalan listrik yang terus mengganggu aktivitas masyarakat di Pulau Siantan.

Katanya, gangguan listrik yang berulang tidak bisa dianggap sebagai persoalan biasa karena berdampak langsung terhadap mata pencaharian nelayan dan keberlangsungan usaha perikanan.

“Persoalan listrik ini harus menjadi perhatian serius PLN. Jangan sampai masyarakat, khususnya nelayan dan pengusaha ikan, terus menjadi pihak yang menanggung kerugian akibat pasokan listrik yang tidak stabil. Bagi kami, listrik bukan hanya kebutuhan penerangan, tetapi juga penunjang utama aktivitas ekonomi masyarakat nelayan,” ujar Desvia saat dihubungi, Kamis (22/10/2026).

Ia menilai, ketidakstabilan listrik dapat mengganggu produksi es batu, menjaga kualitas hasil tangkapan, hingga proses penyimpanan ikan sebelum dipasarkan. Jika kondisi tersebut terus berulang, kerugian yang ditanggung pelaku usaha dan nelayan dikhawatirkan semakin besa

“PLN harus memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat dan menunjukkan langkah nyata untuk menyelesaikan persoalan ini. Jangan sampai gangguan yang sama terus berulang, sementara masyarakat harus menanggung dampaknya. Kami berharap ada penyelesaian yang konkret agar aktivitas nelayan dan usaha perikanan bisa berjalan dengan baik,” tegasnya.

Sebagai langkah untuk mencari penyelesaian, Desvian mengatakan HMNI Kabupaten Kepulauan Anambas akan berencana melakukan audiensi dengan pihak PLN ULP Anambas guna membahas persoalan listrik yang terjadi di Pulau Siantan.

Melalui audiensi tersebut, ia berharap dapat memperoleh penjelasan mengenai penyebab gangguan listrik sekaligus mencari titik terang atas persoalan yang selama ini berdampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama nelayan dan pelaku usaha perikanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *