Mandi Safar di Lingga, Tradisi Tahunan yang Selalu Dinanti Warga

Sejumlah anak-anak mandi dan bermain di sekitar Dermaga Desa Linau, Kecamatan Lingga Utara, saat tradisi Mandi Safar, Rabu (12/8/2026).

LINGGA-ZONASIDIK.COM | Memasuki bulan Safar, masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Lingga kembali melaksanakan tradisi Mandi Safar yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang digelar setiap Rabu terakhir atau Rabu keempat di bulan Safar ini masih menjadi salah satu kegiatan yang paling dinantikan oleh warga, terutama sebagai ajang berkumpul bersama keluarga dan masyarakat.

Sejak pagi hari, sejumlah warga terlihat memadati pantai, lokasi pemandian alam, hingga kawasan air terjun yang tersebar di beberapa kecamatan. Tidak sedikit pula masyarakat yang memilih melaksanakan Mandi Safar di lingkungan tempat tinggal mereka dengan tetap mengedepankan nilai kebersamaan dan doa bersama.

Bagi masyarakat Lingga, Mandi Safar bukan hanya sebatas aktivitas mandi di laut atau tempat wisata. Tradisi ini memiliki makna spiritual yang kuat sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan kepada Allah SWT dari berbagai musibah, penyakit, maupun marabahaya.

Bacaan Lainnya

Sebelum menuju lokasi pelaksanaan, sebagian masyarakat biasanya berkumpul terlebih dahulu di masjid atau surau untuk melaksanakan doa bersama. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan mandi dan berbagai aktivitas kebersamaan yang menambah semarak suasana.

Selain memiliki nilai religius, tradisi Mandi Safar juga memberikan dampak sosial yang positif. Momentum ini menjadi kesempatan bagi warga yang jarang bertemu untuk kembali bersilaturahmi, sekaligus menjadi sarana rekreasi bagi anak-anak dan keluarga.

Rahmat, warga Desa Linau, Kecamatan Lingga Utara, mengatakan bahwa Mandi Safar masih menjadi tradisi yang selalu dinanti masyarakat setiap tahunnya.

“Setiap tahun kami tetap melaksanakan Mandi Safar. Selain menjalankan tradisi yang sudah ada sejak dulu, ini juga menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan warga kampung,” ujarnya kepada zonasidik, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, tradisi tersebut perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Sebab, selain mengandung nilai budaya dan keagamaan, Mandi Safar juga menjadi identitas masyarakat Melayu yang masih hidup dan berkembang di Kabupaten Lingga. (Juh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *