ANAMBAS-ZONASIDIK.COM | Pemadaman listrik yang semula diinformasikan hanya berlangsung tiga jam justru berlanjut hingga malam hari. Kondisi tersebut memicu kekecewaan warga Pulau Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, yang akhirnya mendatangi kantor PLN ULP Anambas pada Selasa malam (20/10/2026) untuk menuntut penjelasan.
Kekecewaan warga bermula dari pemberitahuan pemadaman mulai pukul 09.00 WIB untuk pekerjaan pemasangan kipas radiator pada mesin pembangkit MTU 02. Pekerjaan tersebut dilakukan PT Nusa Daya selaku pengelola dan penanggung jawab produksi listrik di Kabupaten Kepulauan Anambas.
Namun, pasokan listrik tidak kembali normal sesuai waktu yang diinformasikan. Listrik sempat menyala sekitar pukul 17.00 WIB, tetapi kembali padam. Pemadaman yang berlangsung berjam-jam itu membuat warga mempertanyakan kepastian pelayanan listrik.
Sekitar pukul 20.55 WIB, massa mendatangi kantor PLN ULP Anambas. Dalam aksi itu, warga membawa ikan teri dan cumi-cumi busuk, lalu melemparkannya ke area kantor sebagai bentuk kekecewaan atas pemadaman yang kembali berulang.
Di lokasi, terlihat pintu kaca kantor PLN dalam kondisi pecah. Namun, penyebab kerusakan tersebut belum dapat dipastikan.
Massa bermaksud menemui Manager PLN Anambas untuk meminta penjelasan langsung. Akan tetapi, mereka tidak berhasil bertemu karena manager yang ingin ditemui tidak berada di kantor.
Karena belum mendapatkan penjelasan langsung, massa kemudian bergerak menuju rumah dinas Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, untuk meminta bantuan menghadirkan pihak manajemen PLN.
Setibanya di rumah dinas, Bupati Aneng bersama Wakil Ketua II DPRD, Rocky Hasudungan Sinaga dan Sekretaris Daerah Sahtiar, menyambut warga dan meminta mereka tetap tenang sembari menunggu kedatangan pihak PLN.
“Harap tenang, kita sama-sama di sini. Jadi tunggu sebentar, saya akan panggil manager PLN untuk menjelaskan semua ini. Kita selesaikan dengan kepala dingin,” ucap Bupati saat menyambut massa.
Salah seorang perwakilan warga menegaskan bahwa kedatangan mereka bukan untuk mencari keributan, melainkan meminta penjelasan mengenai pemadaman yang kembali terjadi.
“Pak Bupati, kami datang ke rumah dinas Pak Bupati ini hanya ingin meminta Pak Bupati menelepon atau mendatangkan manager PLN untuk memberi penjelasan kepada kami. Kenapa saat ini masih terjadi mati lampu. Hanya itu, Pak Bupati,” ujar perwakilan massa.
Setelah menunggu sekitar satu jam, Manager PLN ULP Anambas, Fachri Refi, akhirnya tiba di rumah dinas Bupati Kepulauan Anambas. Kedatangannya langsung disambut sorakan massa yang sejak awal menunggu penjelasan atas pemadaman listrik yang tak kunjung tuntas.
Suasana pertemuan pun menjadi lebih hidup ketika warga mulai melontarkan pertanyaan kepada pihak PLN. Mereka menuntut penjelasan yang jelas mengenai penyebab pemadaman yang berlangsung jauh melampaui jadwal awal, sekaligus mempertanyakan kepastian pasokan listrik agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Di hadapan manajer PLN, warga juga mengingatkan kembali komitmen yang telah disampaikan dalam aksi pada 18 Oktober 2026. Mereka ingin mengetahui sejauh mana tindak lanjut dari pernyataan tersebut, bukan sekadar mendengar janji baru di tengah persoalan listrik yang kembali meresahkan masyarakat.
Menanggapi tuntutan tersebut, Manager PLN Anambas, Fachri Refi, mengatakan pihaknya berupaya memperbaiki pengaturan pasokan listrik melalui penyusunan jadwal dan pembagian beban. Ia juga mengakui masih terdapat kendala teknis yang perlu ditangani.
“Kami berupaya semaksimal mungkin. Membuat jadwal supaya terarah, pembagian beban, keadilan semua. Memang ada kendala-kendala teknis, tapi kami berupaya semaksimal mungkin. Kami bagi delapan jam biar kami pun bisa lebih tenang,” ujar Fachri di hadapan massa.
Selain menjelaskan rencana pengaturan pasokan listrik, Fachri menyampaikan informasi mengenai pengiriman mesin tambahan untuk mendukung kebutuhan listrik di Anambas.
“Pak, izin. Jadi tadi saya mendapatkan informasi terkait penambahan mesin di sini sudah mendekati Letung sore tadi, menuju ke sini,” katanya.
Pernyataan mengenai penambahan mesin tersebut mendapat tanggapan dari tokoh masyarakat, Dodo. Ia mempertanyakan kepastian penambahan mesin dan menegaskan bahwa ketersediaan listrik sangat penting bagi aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk nelayan dan pelaku usaha.
“PLN ini hampir pemerintah yang punya. Kalau tak ada uang, Bapak bilang saya, saya beli mesin! Demi masyarakat,” ujar Dodo.
Ia menegaskan, dukungannya terhadap pembangunan daerah didorong oleh keinginan agar masyarakat dapat menjalankan usaha dan memperoleh penghidupan yang layak. Menurutnya, kepastian pasokan listrik menjadi salah satu kebutuhan penting untuk menunjang aktivitas masyarakat sehari-hari.
Setelah mendengarkan penjelasan Manager PLN mengenai rencana pemadaman bergilir selama delapan jam, Dodo kemudian meminta warga mengakhiri pertemuan.
Selama berlangsungnya aksi dan pertemuan tersebut, aparat kepolisian bersama personel Satpol PP Kabupaten Kepulauan Anambas turut berada di lokasi untuk mengamankan situasi.



